Kamis, 08 Desember 2011

Resensi Novel Mimpi sang Garuda







PERJUANGAN ANAK DALAM MERAIH IMPIAN


Judul                  : Mimpi Sang Garuda
Penulis               : Benny Rhamdani
Tahun terbit       : 2009
Cetakan             : pertama
Harga                 : Rp 25.000,00
Tebal buku         : 130 halaman

Buku ini ditulis yaitu dengan tujuan untuk megingatkan pembaca soal mimpi. Untuk memperjuangkan dan mencapai mimpi ternyata tidak semudah membalikkan tangan, tapi melalui rintangan – rintangan yang tidak mudah. Kadang kala rintangan tersebut datang dari orang yang sangat kita cintai. Benny Rhamdani, penulis novel ini. lahir di Jakarta pada 15 November. Mulai menulis cerita dan dongeng anak - anak sejak usia 10 tahun. Tapi, karyanya baru dimuat di majalah BOBO ketika dia duduk di bangku SMP, dan hingga kini telah menulis ratusan cerpen dan dongeng anak di berbagai media setak. Kegemaran Kak Benny adalah membaca buku dan berselancar di internnet.


Ketika itu di sebuah sekolah  ada anak yang bernama Bayu dan Edwin dia adalah sahabat sejati yang selalu bermain bola bersama. Suatu hari di sekolahnya sedang kedatangan murid baru yang bernama Heri. Dia anak yang gagap dan selalu dibantu kursi roda ketika jalan. Dia dalam keseharianya di temani oleh sahabat setianya yang bernama Bang Duloh. Di sekolah juga ada anak yang bernama Amelia. Dia adalah anak yang pandai dan suaranya sangat merdu saat bernyanyi
Bayu mempunyai seorang ayah yang bernama Ali. Dia dulunya adalah seorang pemain sepak bola yang terkenal. Tapi sekarang dia menjadi supir taksi karena dia terkena cedera kaki dan tidak bisa sembuh. Bayu mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pemain sepak bola terkenal. Ayahnya sangat mendukung impianya tersebut,namun tidak dengan kakeknya. Kakeknya yang bernama Pak Usman tidak ingin ingin cucu tercintanya nantinya bermain sepak bola. Dia menginginkan cucunya menjadi pegawai pertamina. Bayu sering dimarahi kakeknya ketika dia membawa sepatu bola. Untung ada ayah dan ibunya yang selalu Membelahnya.
Suatu hari Bayu ditantantang bermain sepak bola oleh sekolah lain. Dengan hati senang Bayu menerima tantangan tersebut. Kemudian Bayu mengajak teman – temanya untuk gabung dengan dia dalam permainan itu. Heri salah satu temanya tidak bisa ikut pertandingan Karena dia menggunakan sepatu roda.  Dia dan Amelia, agdis baik hati duduk di samping lapangan dan meraka hanya memberi dukungan kepada Bayu agar bisa menang dalam pertandingan. Dan pada akhirnya pertandingan dimenangkan oleh tim Bayu. Setelah permainan tersebut usai, Bayu bergegas ingin pulang ke rumah. Dia pulang diantar oleh Heri. Pada saat Bayu sampai di rumah, kakek Bayu, Pak Usman mengetahui bahwa Bayu telah bermain bola. Kemudian kakek memarahi Bayu. Bayu sangat takut melihat mata kakek yang melototinya. Bang Alipun tidak tinggal diam melihat anaknya dimarahi. Kemudian adu mulutpun terjadi antara Kakek Bayu dengan ayah Bayu. Untungnya ibu bayu dengan kata – kata yang lembut mampu melerai mereka.
Keesokan harinya, kakek Bayu sengaja membakar sepatu bola Bayu agar Bayu tidak bisa lagi bermain bola. Dan pada akhirnya Bayu mengetahui Hal tersebut. Dia sangat marah sekali pada kakeknya. Tapi dia tidak bisa melampiaskan kemarahanya karena dia sangat sayang sekali pada kakeknya. Dia tidak menyangka bahwa kakeknya tega melakukan hal tersebut. Ayahnya sangat sedih melihat hal tersebut. Kemudian dia memarahi Pak Usman, ayahnya. 
 Beberapa hari setelah kejadian tersebut, yaitu tepatnya di pagi hari Pak Usman pergi meninggalkan rumah. Ibu Bayu menemukan secarik kertas di kamar yang ditempati kakek. Melihat hal tersebut Bayu merasa kasihan kepada kakek. Bagaimanapun kakek sudah tidak muda lagi. Pasti akan kesepian tinggal sendirian. Bayu berencana menjemput kakeknya dan mengajak dia untuk kembali. Namun rencana tersebut ditolak oleh ayahnya.
Hari – hari Bayu berlalu tanpa kakeknya. Bayu sudah berusaha menelpon kakenya namun tak ada jawaban. Kerinduhan Bayu akan kakenya sedikit terobati ketika timnas Indonesia Akan bermain dengan Thailand. Dia berencana menonton dengan teman sekelasnya. Dan seluruh biaya ditanggung oleh Heri. Dan pada waktu Heri datang ke rumah Bayu, dia menawari Bayu agar Pak Ali, ayah Bayu juga ikutan bergabung nonton. Tapi sayangnya ayah Bayu pada jam dimulainya pertandingan masih bekerja. Pak Ali berusaha untuk bisa hadir dalam pertandingan tersebut.
Pada saat pertandingan dimulai ayah Bayu masih belum datang. Dan pada saat babak pertengahan berlangsung tiba- tiba terompet yang di bawah oleh Bayu terjatuh. Bersamaan dengan itu gelas Ibu Bayu juga terjatuh dan pecah dan kakek bangun dari tidur siangnya karena mimpi buruk. Dan ternyata taksi yang ditumpangi oleh pak Ali, ayahnya Bayu. Ditabrak truk dari arah yang berlawanan. Dan seketika itu juga ayah Bayu meninggal dunia.
Beberapa hari setelah pemakaman tersebut, Bayu masuk  sekolah dan dia kembali mendapatkan ungkapan belasungkawa dari teman – temanya. Terutama Heri. Dia mengungkapkan belasungkawanya dengan perkataan yang berbeda dari biasanya yang gagap. Dia ternyata sudah mengalami perubahan semenjak dia sering mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Amelia.
Hari pun berlalu. Lambat laun, Bayu sudah mulai terbiasa tanpa canda dan tawa bersama ayahnya. Ibunya memberi nasehat kepada dia agar tidak menunjukan kesediahan terlalu lama kepada orang banyak karena itu merupakan kelemahan kita. Di sekolah dia selalu duduk bersama dengan Heri dan selalu bercanda ria.      

Alur dalam cerita tersebut sangat jelas sehingga mudah dipahami. Dan bahasa yang dipakai dalam cerita tersebut membuat si pembaca ikut dalam cerita tersebut.  Bahasa yang kebanyakan menggunakan bahasa yang biasanya digunakan oleh anak menambah daya tarik sendiri bagi novel tersebut. Selain itu, gambar yang digunakan sebagai ilustrasi sangat bagus sehingga membuat cerita tersebut seperti hidup.
Tapi gambar yang digunakan sebagai ilustrasi sangat kurang. Gambar ilustrasi ditunjukkan setelah peristiwa selesai. Selain itu, bentuk huruf(font) yang digunakan kurang menarik dan cenderung datar.

Mimpi sang Garuda adalah sebuah novel yang menceritakan mimpi seorang anak yang berlawanan dengan keinginan seseorang  yang dicintainya. Alur yang digunakan dalam novel tersebut adalah alur Maju. Cerita yang disajikan dirangkai secara berurutan. Tempat terjadinya peristiwa dalam novel tersebut antara lain di Sekolah, Lapangan Bola, Rumah Bayu. Pada waktu pagi, siang, dan malam. Suasana cerita dalam  novel tersebut menyenangkan,bahagia, tapi meyedikan sekaligus mengharukan. Tokoh – tokoh yang berperan dalam novel tersebut antara lain : Ibu Bayu, Ayah Bayu(Ali), Pak Usman Bang Dulo, Heri, Bayu, Amelia, dan Edwin.. Ibunya mempunyai watak  Sabar, Baik hati, penuh pengertian. Ayahnya (Ali) Baik hati, ramah, cinta pada keluarganya. Pak Usman mempunyai watak keras, suka memaksa kehendak, tapi Baik. Bang Dulo Baik hati, setia pada atasan, suka bercanda, dan ramah. Heri, Amelia, Edwin, dan Bayu  adalah anak – anak yang  Baik, suka menolong, dan saling setia satu sama lain.
Jaman sekarang kebanyakan warga indoneisa yang gemar bermain sepak bola, terutama anak – anak. Hal tersebut membuat si penulis Novel menggunakan sepak bola sebagai objek novel. Selain itu, adanya penambahan – penambahan karakter – karekter yang kuat hasil karya Salman Aristo, penulis sekenario film andal saat ini juga menjadi salah satu faktornya.                                    

Bahasa yang digunakan dalam Novel ini sangat baik. Menggunakan bahasa sehari – hari dalam cerita tersebut membuat pembaca ikut dan merasakan tentang peristiwa yang ada dalam cerita yang disajikan. Selain itu bahasa yang kebanyakan menggunakan bahasa yang biasanya digunakan oleh anak menambah daya tarik sendiri bagi novel tersebut.

novel yang berjudul Mimpi Sang Garuda ini sangat bagus untuk anak – anak karena pada novel tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang anak untuk meraih mimpinya dan persahabatan sejati. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai inspirasi atau pandangan oleh anak sehingga anak – anak yang telah membacanya tahu bahwa mengejar mimpi tidaklah mudah. Selain itu, menggunakan sepak bola sebagai obyek menambah daya tarik tersendiri bagi anak untuk membacanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar